Selamat datang di PLTG Gilimanuk

PLTG GILIMANUK

Keanekaragaman Hayati

PT. PLN Indonesia Power UBP Bali Unit PLTG Gilimanuk memiliki tujuan untuk menjadi perusahaan energi terpercaya yang tumbuh berkelanjutan dan bersahabat dengan lingkungan. Tujuan tersebut dapat dicapai dengan berbagai cara, salah satunya melalui pengelolaan keanekaragaman hayati (biodiversity) yang menjadi bagian dari tujuh pilar kebijakan lingkungan PT. PLN Indonesia Power UBP Bali Unit PLTG Gilimanuk.Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi Program Keanekaragaman Hayati PT. PLN Indonesia Power UBP Bali Unit Gilimanuk bekerjasama dengan berbagai instansi dengan tujuan untuk memastikan program tersebut dapat terlaksana dengan baik dan sesuai dengan tujuan dan sasaran yang diharapkan.

Jalak Bali di area penangkaran Taman Nasional Bali Barat

Program Konservasi Fauna

1. Penangkaran Jalak Bali di Taman Nasional Bali Barat

Jalak Bali (Leucopsar rothschildi) yang sering disebut Curik Bali adalah jenis burung berukuran sedang dan hanya ditemukan di Gilimanuk tepatnya di kawasan Taman Nasional Bali Barat, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana. Burung ini juga merupakan satu-satunya spesies endemik Bali dan pada tahun 1991 dinobatkan sebagai lambang fauna Provinsi Bali. Keberadaan hewan endemik ini dilindungi undang-undang. Terkait dengan komitmen dan program Taman Nasional Bali Barat yang bertujuan untuk pelestarian jalak bali maka dukungan terhadap pelestarian jalak bali mutlak diperlukan.

Di habitat aslinya, jalak bali sangat rawan perburuan sehingga populasinya diperkirakan tinggal belasan. Selain itu, kerusakan lingkungan yang masih terjadi di Taman Nasional Bali Barat turut menghambat pertumbuhan populasi burung ini. Tidak mengherankan bila survei terbaru yang dilakukan awal tahun 2005 hanya menemukan lima ekor jalak bali di alam. Karena penampilannya yang indah dan elok, jalak bali menjadi salah satu burung yang paling diminati oleh para kolektor dan pemelihara burung. Penangkapan liar, hilangnya habitat hutan, serta daerah burung ini ditemukan sangat terbatas menyebabkan populasi burung ini cepat menyusut dan terancam punah dalam waktu singkat. Untuk mencegah hal ini sampai terjadi, sebagian besar kebun binatang di seluruh dunia menjalankan program penangkaran Jalak Bali. Jalak Bali dinilai statusnya sebagai kritis di dalam IUCN Red List serta didaftarkan dalam CITES Appendix I.

Oleh karena itu, kami melakukan kerja sama dengan Taman Nasional Bali Barat guna pelestarian satwa langka dan dilindungi endemik Pulau Bali, dengan cara penangkaran jalak bali di habitatnya. Terdapat 3 kandang binaan PT. PLN Indonesia Power, di antaranya kandang berukuran 10 x 10 x 12 meter yang terdapat di Taman Nasional Bali Barat, serta kandang ukuran 3 x 3 x 4 meter untuk indukan jalak bali dan ukuran 3 x 3 x 3 meter untuk anakan jalak bali yang terpasang di PT. PLN Indonesia Power UBP Bali Unit Gilimanuk.

HASIL ABSOLUTE

Program Keterangan Hasil Absolut Keanekaragaman Hayati Satuan
2022 2023 2024 2025 2026*
HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran
Konservasi In Situ Jalak Bali (Fauna Khas Pulau Dewata) : Penangkaran Jalak Bali di Taman Nasional Bali Barat Fauna : Leucopsar rothschildi 975 45.000.000 1.089 45.000.000 1.167 45.000.000 1395 45.000.000 1.481 45.000.000 Ekor
Luas : 77.000 77.000 77.000 77.000 77.000 Ha
Indeks : 1,51 1,56 1,60 1,62 1,65 H'

Grafik Perkembangan Burung Jalak Bali

Grafik Perkembangan Burung Jalak Bali 2022–2026 Data jumlah burung: 804 pada 2021, 975 pada 2022, 1089 pada 2023, 1167 pada 2024, dan 1395 pada 2025*. 1600 1400 1200 1000 800 600 400 200 0 Jumlah Burung 2022 2023 2024 2025 2026* Tahun
Tanaman Sentigi Bali dalam program taman edukasi dan konservasi di PLTG Gilimanuk
Program Keanekaragaman Hayati

2. Taman Edukasi dan Konservasi Tanaman Sentigi Bali

Pohon Sentigi (Pemphis acidula) merupakan tumbuhan perdu yang tumbuh di daerah pesisir berkarang, berpasir atau di tepi hutan mangrove. Tumbuh di daerah beriklim tropis yang tersebar luas di pesisir Asia Selatan yang meliputi Indonesia, Filipina, Malaysia, Singapura, Thailand, Vietnam dan Srilanka. Ancaman terbesar tumbuhan ini adalah meningkatnya konservasi lahan, polusi dan bencana alam. Selain itu penebangan liar juga membuat keberadaan pohon ini semakin susah dijumpai dihabitat alaminya. Hal ini dikarenakan banyak masyarakat mencari pohon Sentigi karena pohon ini dipercaya dapat menjadi obat herbal alternatif dengan manfaat seperti meredakan rasa sakit, menyembuhkan rematik dan diabetes, serta meringankan penyakit kanker.

Semakin maraknya penebangan liar pohon sentigi ini dapat merusak ekosistem di sekitaran pesisir pantai serta dapat membuat proses abrasi yang dapat disebabkan oleh gelombang air laut. Oleh karena itu, PT. PLN Indonesia Power UBP Bali Unit PLTG Gilimanuk berupaya untuk menjaga kelestarian flora di pesisir pantai guna untuk meningkatkan jumlah entitas flora serta menjaga lingkungan pesisir pantai dari abrasi.

HASIL ABSOLUTE

Program Jenis Spesies atau Luasan Hasil Absolut Keanekaragaman Hayati Satuan
2022 2023 2024 2025 2026*
HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran
Konservasi Ex-Situ Tanaman Sentigi : Taman Edukasi dan Konservasi Tanaman Sentigi Bali Flora : Sentigi Karang Bali (Pemphis acidula) 37 10.000.000 43 10.000.000 50 10.000.000 58 10.000.000 65 10.000.000 Pohon
Sentigi Mawar Bali (Pemphis acidula) 5 7 10 12 15 Pohon
Luas : 1 1 1 1 1 Ha
Indeks : 0,36 0,40 0,45 0,46 0,48 H'

Grafik Perkembangan Tanaman Sentigi Bali

Grafik Perkembangan Tanaman Sentigi Bali 2022 sampai 2026 Sentigi Karang: 30, 37, 43, 50, 58. Sentigi Mawar: 3, 5, 7, 10, 12. Data berurutan dari tahun 2021 hingga 2025. 70 60 50 40 30 20 10 0 Jumlah 2022 2023 2024 2025 2026* Tahun
Sentigi Karang Sentigi Mawar
Kegiatan konservasi dan penanaman tanaman endemik untuk pakan Jalak Bali di Taman Nasional Bali Barat

Program Konservasi Flora

3. Kontak Pakjali (Konservasi Tanaman Endemik Pakan Jalak Bali Menggunakan Media Tanam Limbah Pampers)

Taman Nasional Bali Barat terletak di bagian Barat dari Pulau Bali di Indonesia. Taman Nasional Bali Barat memiliki luas 77.000 Hektar yang kira-kira meliputi 10% dari luas daratan pulau Bali. Taman Nasional Bali Barat terdiri dari berbagai habitat hutan serta sabana yang luas, hewan yang berada di Taman Nasional Bali Barat bergantung pada kondisi hutan sebagai tempat berlindung maupun mencar makan. Salah satu hewan yang bergantung pada kondisi hutan dan lingkungan di Taman Nasional Bali Barat ialah Burung Curik Bali yang populasinya saat ini semakin memprihatinkan. Tercatat populasi Curik Bali di Taman Nasional Bali Barat hingga Juni 2020 ini kurang lebih sekitar 361 ekor, ini menandakan bahwa perlunya kita mengembalikan ekosistem habitat hewan-hewan yang dilindungi di Taman Nasional Bali Barat khususnya melalui penanaman kembali tanaman - tanaman endemik seperti tanaman Kwanji, Malaka/Mloko, dan Trengguli yang dimanfaatkan sebagai pakan jalak bali guna meningkatkan populasi habitat asli hewan yang hidup di area Taman Nasional Bali Barat ini.

Oleh karena itu PT. PLN Indonesia Power UBP Bali Unit PLTG Gilimanuk berupaya untuk menjaga kelestarian flora di area Taman Nasional Bali Barat melalui penghijauan kembali guna untuk meningkatkan jumlah entitas flora serta meningkatkan populasi fauna yang terdapat pada area Taman Nasional Bali Barat. Kegiatan yang dilakukan dengan cara melakukan penyemaian benih tanaman endemik menggunakan media tanam pampers di lahan kelompok masyarakat Suketeki. Media tanam yang dilakukan untuk pembenihan tanaman menggunakan media tanam dari bahan limbah pampers. Bahan limbah pampers bayi dilakukan pengumpulan dan digunakan sebagai dasar media tanam yang berfungsi sebagai media penyimpan air di dalam tanah sehingga dapat menjaga kelembaban. Kelebihan dari media tanam pampers dengan yang lain adalah tidak perlu sering menyiram air karena bisa digunakan untuk menyimpan atau menyerap air pada media tanam, dapat mengurangi kerusakan lingkungan, dan meningkatkan kesuburan tanaman. Dengan adanya kandungan yang terdapat pada limbah popok bayi dan dengan metode yang tepat maka limbah popok bayi dapat dimanfaatkan sebagai alternative media tanam dengan keunggulan kelembaban tinggi dan juga kaya akan unsur hara dan pupuk organik (Nawawi et al., 2019). Kemudian setelah menjadi bibit akan ditanam pada lahan konservasi Taman Nasional Bali Barat.

HASIL ABSOLUTE

Program Jenis Spesies atau Luasan Hasil Absolut Keanekaragaman Hayati Satuan
2022 2023 2024 2025 2026*
HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran
Konservasi In-Situ Tanaman Endemik Support Pakan Jalak Bali : KONTAK PAKJALI (Konservasi Tanaman Endemik Pakan Jalak Bali Menggunakan Media Tanam Limbah Pampers) Flora : Kwanji (Pongamia pinnata) 160 10.000.000 175 10.000.000 186 10.000.000 Pohon
Kemloko / Malaka (Phyllanthus emblica) 130 145 161 Pohon
Trengguli (Cassia fistula) 130 145 160 Pohon
Luas : 5 5 5 Ha
Indeks : 1,094 1,095 1,096 H'

Penanaman Tumbuhan Endemik

Penanaman Tumbuhan Endemik Kwanji: 140, 160, 175, 186. Kemloko: 110, 130, 145, 161. Trengguli: 110, 130, 145, 160. Kategori pada grafik: Penanaman, 2024, 2025*, dan 2026*. 200 180 160 140 120 100 80 60 40 20 0 Jumlah Penanaman (Pohon) 140 110 110 160 130 130 175 145 145 186 161 160 Penanaman 2024 2025 2026*
Kwanji Kemloko Trengguli

4. Belajar Bersama Taman Edukasi Ikan Koki Endemik Bali (Balinese goldfish)

Ikan Mas Koki Bali dalam program taman edukasi dan konservasi fauna di PLTG Gilimanuk


Ikan Mas Koki memiliki nama latin Carrasius Auratu di mana pada mulanya dibudidaya oleh masyarakat Cina pada tahun 1960–1729. Ikan Mas Koki merupakan satu famili dengan Ikan Mas namun Ikan Mas Koki tidak memiliki sepasang sungut. Pada tahun 1368–1644, budidaya Ikan Mas Koki marak dilakukan sehingga terbentuk berbagai varian dengan bentuk tubuh dan warna yang unik. Ikan Mas Koki masuk ke wilayah Bali pada masa pemerintahan Raja Sri Aji Jayapangus. Ikan Mas Koki Bali, dikenal sebagai ikan hias air tawar yang sangat cantik dan lucu. Corak warna yang beragam dan unik menjadi ikan Mas Koki Bali primadona dikalangan pecinta ikan hias. Ikan Mas Koki pada umumnya dapat dengan mudah ditemukan di Indonesia, serta memiliki perawatannya yang cenderung mudah. Tak heran, peminat akan Ikan Mas Koki dapat terbilang tinggi. Berbeda dengan Ikan Mas Koki lainnya, Ikan Mas Koki Bali memiliki mata yang bulat layaknya balon, badan yang pendek, perut buncit serta yang paling istimewa adalah sirip duyung yang menyerupai kipas kura-kura. Memiliki ekor yang lebar, di mana mencapai 2 kali ukuran badan Ikan Koki Mas Bali itu sendiri. Ekor tersebut memiliki bentuk sirip yang lunglai dan panjang.

PT. PLN Indonesia Power dalam komitmennya bersahabat dengan lingkungan memulai melihat sebuah potensi bahwa flora dan fauna endemik Bali yang telah dimiliki dapat menjadi sebuah sarana edukasi untuk masyarakat sekitar. Pembuatan taman edukasi juga membuat PT. PLN Indonesia Power UBP Bali PLTG Gilimanuk menambah salah satu jenis fauna yang dikonservasi yaitu Ikan Mas Koki Bali.

HASIL ABSOLUTE

Program Jenis Spesies atau Luasan Hasil Absolut Keanekaragaman Hayati Satuan
2022 2023 2024 2025 2026*
HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran
Konservasi In Situ Ikan Mas Koki Bali (Fauna Khas Pulau Dewata) : Belajar Bersama Taman Edukasi Ikan Koki Endemik Bali (Balines goldfish) Fauna : Carrasius aurati 31 10.000.000 38 10.000.000 44 10.000.000 52 10.000.000 63 10.000.000 Ekor
Luas : 1 1 1 1 1 Ha
Indeks : 8,74 10,17 11,36 12,91 14,96 H'

Perkembangan Ikan Mas Koki Bali

Perkembangan Ikan Mas Koki Bali tahun 2021 hingga 2025 Jumlah ikan berturut-turut 31 ekor pada 2022, 38 ekor pada 2023, 44 ekor pada 2024, 52 ekor pada 2025, dan 63 ekor pada 2026*. 70 60 50 40 30 20 10 0 Jumlah 31 38 44 52 63 2022 2023 2024 2025 2026*

5. Pelestarian Tanaman Endemik Anggrek Hutan Bali Barat (Dendrobium taprobianum)

Anggrek (Orchidaceae) merupakan salah satu tumbuhan yang memiliki keanekaragaman yang tinggi, memiliki jumlah jenis terbesar dari tumbuhan berbunga, hampir 25.000 jenis dan sekitar 6.000 jenis diantaranya adalah anggrek Indonesia yang telah berhasil diidentifikasi. Bali merupakan salah satu wilayah persebaran anggrek. Pada pulau ini ditemukan sebanyak 159 jenis anggrek, di Bali terdapat 146 jenis anggrek, dan terdapat Anggrek epifit di danau Buyan–Tamblingan Bali Barat tercatat sebanyak 30 jenis.

Keberadaan anggrek di alam liar terus menurun, disebabkan oleh perusakan habitat dan eksploitasi yang berlebihan. Eksplorasi flora, terutama anggrek, dianggap sangat penting, karena banyak habitat alami anggrek telah terdegradasi. Pemusnahan habitat alami anggrek telah meningkat tajam dan telah dipercepat oleh aktivitas manusia seperti perumahan, industri, perkebunan dan sebagainya. WCMC (1995) menyatakan bahwa anggrek termasuk jenis terancam tertinggi (39%) dibandingkan dengan jenis terancam lain di Indonesia. Bahkan kemungkinan masih banyak jenis anggrek telah punah sebelum sempat dideskripsikan atau didokumentasikan. Banyak kawasan hutan di Jawa telah diubah menjadi area permukiman, perumahan atau perkebunan sehingga populasi anggrek di alam liar sudah sangat terancam. Selain itu, pedagang anggrek liar secara ilegal merambah langsung di habitat alaminya, sehingga hal ini juga memicu penurunan populasi anggrek liar di alam. Bencana alam juga menjadi salah satu penyebab menurunnya populasi di alam. Oleh karena itu PT PLN Indonesia Power UBP Bali Unit PLTG Gilimanuk berupaya untuk menjaga kelestarian flora endemik hutan Bali Barat melalui Pelestarian Anggrek Hutan Bali Barat kembali guna untuk meningkatkan jumlah entitas flora yang terdapat pada area Hutan Bali Barat.

HASIL ABSOLUTE

Program Jenis Spesies atau Luasan Hasil Absolut Keanekaragaman Hayati Satuan
2022 2023 2024 2025 2026*
HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran
Konservasi Eks-Situ Tanaman Anggrek Bali (Flora Khas Pulau Dewata) : Pelestarian Tanaman Endemik Anggrek Hutan Bali Barat (Dendrobium taprobianum) Flora : Anggrek Bali (Dendrobium taprobianum) 7 7.000.000 10 7.000.000 14 7.000.000 16 7.000.000 19 7.000.000 Pohon
Luas : 1 1 1 1 1 Ha
Indeks : 3,08 3,91 4,93 5,41 6,11 H'

Perkembangan Anggrek Hutan Bali Barat

Perkembangan Anggrek Hutan Bali Barat Jumlah tanaman anggrek: 7 pada 2022, 10 pada 2023, 14 pada 2024, 16 pada 2025, dan 19 pada 2026*. 20 18 16 14 12 10 8 6 4 2 0 Jumlah 7 10 14 16 19 2022 2023 2024 2025 2026* Tahun
Kegiatan pemasangan glodok sebagai rumah singgah burung Jalak Nusa di PLTG Gilimanuk

Program Konservasi Fauna

6. Pelestarian Burung Jalak Nusa melalui Penyediaan Glodok sebagai Rumah Singgah dan Sumber Pakan di PLTG Gilimanuk

Burung Jalak Nusa (Acridotheres sp.) merupakan salah satu satwa endemik yang memiliki nilai ekologis, estetis, sekaligus kultural bagi masyarakat Bali dan sekitarnya. Keberadaannya di alam liar saat ini menghadapi ancaman serius akibat berbagai tekanan yang bersifat ekologis maupun antropogenik. Populasi Jalak Nusa semakin menyusut, baik karena berkurangnya habitat alami, terbatasnya ruang untuk berkembang biak, maupun karena menurunnya ketersediaan sumber pakan yang berkelanjutan.

Salah satu persoalan mendasar adalah hilangnya pohon-pohon tua berlubang yang umumnya digunakan oleh Jalak Nusa sebagai tempat bersarang dan bertelur. Penebangan pohon, alih fungsi lahan menjadi permukiman maupun kawasan industri, serta minimnya penghijauan yang ramah satwa membuat burung ini semakin sulit menemukan tempat aman untuk berbiak. Selain itu, keberadaan sumber pakan alami juga semakin terbatas akibat menurunnya keragaman tumbuhan penyedia buah, biji, dan serangga yang menjadi makanan utama burung ini.

Dengan melihat kondisi tersebut, dibutuhkan upaya konservasi eks-situ yang tepat sasaran, aplikatif, dan berkelanjutan. Penyediaan glodok sebagai rumah singgah dapat menjadi solusi untuk mengatasi keterbatasan ruang bersarang, sekaligus memberi rasa aman bagi Jalak Nusa dalam berkembang biak. Sementara itu, penyediaan sumber pakan alternatif yang teratur dan ramah lingkungan dapat menjamin ketersediaan energi bagi burung untuk bertahan hidup dan bereproduksi. Melalui intervensi ini, kawasan PLTG Gilimanuk tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas energi, tetapi juga menjadi ruang konservasi yang berkontribusi pada pelestarian Jalak Nusa serta menjaga keberlanjutan ekosistem lokal.

HASIL ABSOLUTE

No Program Jenis Spesies atau Luasan Hasil Absolut Keanekaragaman Hayati Satuan
2022 2023 2024 2025 2026*
HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran
6 Konservasi Eks-Situ Jalak Nusa: Pelestarian Burung Jalak Nusa melalui Penyediaan Glodok sebagai Rumah Singgah dan Sumber Pakan di PLTG Gilimanuk Fauna : Acridotheres melanopterus 2 20.000.000 3 20.000.000 Ekor
Luas : 1 1 Ha
Indeks : 1,44 1,82 H'

Perkembangan Jalak Nusa

Perkembangan Jalak Nusa Jumlah burung Jalak Nusa: 2 pada tahun 2025 dan 3 pada tahun 2026*. 3.5 3 2.5 2 1.5 1 0.5 0 Jumlah 2025 2026* Tahun

*Tanda bintang mengikuti penulisan tahun pada tabel referensi.

7. Coral Nursery Table: Rekayasa Substrat Buatan untuk Pengembangan Acropora pada Perairan Berlumpur Pantai Karangsewu

Program Coral Nursery Table untuk pengembangan karang Acropora di Pantai Karangsewu, Gilimanuk

Program ini merupakan inovasi PLTG Gilimanuk dalam mendukung pengembangan ekosistem pesisir melalui rekayasa habitat dan penyediaan media tumbuh buatan bagi karang. Program ini dilatarbelakangi oleh karakteristik perairan Teluk Karangsewu yang memiliki area dengan substrat dasar pasir berlumpur, sehingga kondisi substrat yang relatif tidak stabil menjadi salah satu tantangan dalam pengembangan karang pada lokasi tersebut. Kondisi tersebut mendorong PLTG Gilimanuk untuk mengembangkan pendekatan baru berupa penyediaan struktur buatan yang dapat menjadi media tumbuh bagi Acropora.

Inovasi dilakukan melalui pembuatan dan pemasangan Coral Nursery Table, yaitu struktur berbentuk rangka yang ditempatkan di dasar perairan dan berfungsi sebagai substrat buatan untuk menempatkan fragmen Acropora. Struktur tersebut memungkinkan fragmen karang berada pada posisi yang lebih terangkat dari dasar perairan, sehingga mengurangi kontak langsung dengan substrat pasir berlumpur dan memberikan ruang tumbuh yang lebih sesuai bagi perkembangan karang. Dengan demikian, Coral Nursery Table tidak sekadar berfungsi sebagai tempat menempelkan fragmen karang, tetapi juga menjadi bentuk rekayasa habitat untuk menciptakan kondisi tumbuh baru yang sebelumnya belum tersedia secara alami di lokasi tersebut.

HASIL ABSOLUTE

Program Jenis Spesies atau Luasan Hasil Absolut Keanekaragaman Hayati Satuan
2022 2023 2024 2025 2026*
HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran HasilAnggaran
Coral Nursery Table: Rekayasa Substrat Buatan untuk Pengembangan Acropora pada Perairan Berlumpur Pantai Karangsewu Fauna : Acropora muricata 9 20.000.000 Koloni
Luas : 2,5 Ha
Indeks : 3,64 H'

*Tanda bintang mengikuti penulisan tahun pada tabel referensi.